Di sudut hati yang tergores luka,
Tawa ria berubah jadi derita.
Kata tajam seperti belati menusuk jiwa,
Meninggalkan bekas yang takkan sirna.
Tiap hari adalah peperangan, Dengan bayang-bayang ketakutan yang mencekam.
Merasa sendiri, tak ada yang menolong,
Jiwa rapuh, semangat pun tenggelam.
Kau pikir itu lucu, tawa mengejekmu?
Menganggapnya hiburan di antara canda.
Tapi bagi mereka, itu adalah siksaan baru,
Memudarkan cahaya, menghapus semua asa.
Mari berdiri, jangan diam saja,
Melawan dinding perundungan yang tercipta.
Dengan kasih sayang dan keberanian nyata,
Kita bangun jembatan, dunia tanpa luka.
Hentikan intimidasi, tebar kebaikan,
Karena setiap jiwa berharga dan patut dihargai.
Dalam perbedaan, kita temukan kekuatan,
Menciptakan dunia yang penuh cinta dan damai.